BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Menghidupkan Dakwah: Langkah PCM Cepu untuk Calon Pimpinan Ranting Baru

Menghidupkan Dakwah: Langkah PCM Cepu untuk Calon Pimpinan Ranting Baru

PCM Cepu selenggarakan pembekalan calon pimpinan ranting baru di RS PKU Muhammadiyah Cepu demi memperkuat konsolidasi dakwah akar rumput.
Table of contents
×
Foto bersama jajaran pimpinan PCM Cepu dan peserta usai pembentukan pimpinan ranting baru
Jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu, pemateri, dan para peserta foto bersama usai sesi pembentukan pengurus ranting baru dalam agenda Pembekalan Bakal Calon Pimpinan Ranting di Aula AR Fachruddin RS PKU Muhammadiyah Cepu, Ahad (18/10/2026).

Keberlanjutan gerakan dakwah Muhammadiyah tidak ditentukan semata oleh besarnya struktur di tingkat pusat, melainkan sejauh mana denyut nadinya berdetak di tingkat paling dasar: ranting. Menyadari urgensi tersebut, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepu menggelar agenda Pembekalan Bakal Calon Pimpinan Ranting Muhammadiyah sekaligus Pembentukan Pimpinan Ranting Baru di wilayah dakwah PCM Cepu.

Bertempat di Aula AR Fachruddin, RS PKU Muhammadiyah Cepu, acara yang berlangsung pada Ahad (18/10/2026) ini menjadi momen krusial konsolidasi ideologi dan kepemimpinan kader.

Merawat Konsistensi dan Amanah

Ketua PCM Cepu, Drs. Mokh Fathoni, M.M., dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun ikatan kolektif dalam berorganisasi. Ia mengajak para calon pimpinan untuk memandang persyarikatan sebagai wadah melangkah bersama menuju keridaan-Nya, menyelaraskan niat untuk masuk surga secara berjemaah.

Dalam pandangannya, keberlanjutan sebuah ranting sangat bergantung pada hadirnya ruang aktivitas yang nyata. Sebuah ranting idealnya memiliki minimal satu pusat kegiatan jemaah, baik masjid, musala, maupun rumah warga, yang dihidupkan melalui rutinitas kajian sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan. Lebih dari itu, kepengurusan yang berjalan dinamis dengan susunan minimal 15 orang pengurus serta ketegasan identitas publik berupa papan nama ranting menjadi fondasi utama agar syiar persyarikatan benar-benar tampak dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Fathoni juga menyoroti perlunya menjaga konsistensi dan amanah di tengah berbagai dinamika sosial-ekonomi.

Meneladani Jejak Pendiri

Sesi materi Kemuhammadiyahan yang disampaikan oleh Bambang Supriyono, S.Ag., S.Pd., membawa peserta menyelami akar sejarah dan identitas persyarikatan. Bambang mengajak para calon pimpinan merenungkan kembali perjalanan K.H. Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah pada usia muda. Warisan perjuangan tersebut kini bertransformasi menjadi aset keumatan bernilai tinggi yang menopang dakwah pencerahan di seantero negeri.

Namun, Bambang menegaskan bahwa keunggulan Muhammadiyah tidak cukup diukur dari besarnya jumlah kader atau kepemilikan aset semata. Hal terpenting adalah kualitas karakter dan integritas. Di tengah era disrupsi informasi yang diwarnai hoaks dan polarisasi ideologi, kader Muhammadiyah dituntut memiliki kedisiplinan. Disiplin ini berfungsi sebagai benteng moral agar setiap pemikiran, ucapan, dan tindakan senantiasa selaras dengan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Kepemimpinan Beretika

Pada sesi Leadership, Helmi Gunawan, M.Pd., menguraikan pentingnya kesadaran diri (self-awareness) dan muhasabah sebagai fondasi utama seorang pimpinan. Seorang pimpinan ranting dituntut mampu mengambil keputusan yang etis, objektif, serta tahan terhadap berbagai benturan provokasi.

Helmi menyampaikan bahwa kepemimpinan di Muhammadiyah bukan soal meraih jabatan atau prestise sosial, melainkan keberanian menjalankan amanah secara konsisten dan mengedepankan prinsip kolektif-kolegial. Dengan kesadaran diri yang kuat, seorang pimpinan ranting akan mampu menavigasi organisasi di tengah tantangan zaman tanpa kehilangan arah ideologisnya.



Melalui pembekalan ini, PCM Cepu menaruh harapan besar pada lahirnya pengurus-pengurus ranting baru, seperti di wilayah Kapuan, Kentong, dan Mulyorejo, yang siap bergerak menghidupkan syiar Islam di desa masing-masing.

Pembentukan pimpinan ranting baru ini diharapkan tidak sekadar menjadi agenda administratif, melainkan pemicu lahirnya gelombang pencerahan baru yang menebar manfaat bagi masyarakat luas.

0Comments