BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Mencabut Akar Penyakit Hati: Catatan Kajian PRM Balun Sawahan Cepu

Mencabut Akar Penyakit Hati: Catatan Kajian PRM Balun Sawahan Cepu

Kajian PRM Balun Sawahan Cepu bersama Ustaz Nur Sahlul bedah 3 akar penyakit hati: sombong, tamak, dan hasad demi pembersihan jiwa.
Table of contents
×
Ustaz Nur Sahlul Mubarak menyampaikan tausiah Kajian PRM Balun Sawahan Cepu
Ustaz Nur Sahlul Mubarak, S.H.I., M.Pd. menyampaikan materi mengenai pilar-pilar pembersihan jiwa dan bahaya penyakit hati dalam Kajian Rutin PRM Balun Sawahan di Musala Waqaf Balun Sawahan, Cepu, Ahad (18/10/2026).

Sering kali manusia terjebak pada ranah permukaan dalam menilai sebuah kesalahan. Ketika perilaku buruk tercetus, fokus perbaikan kerap berhenti pada manifestasi luar. Padahal, sebagaimana petuah ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dosa-dosa lahiriah tak ubahnya ranting dan dedaunan, sedangkan penyakit yang bersarang di dalam hati adalah akar sejatinya. Selama akar tersebut tak dicabut, dahan dan daun maksiat akan senantiasa tumbuh kembali.

Pesan kontemplatif tersebut mengemuka dalam Kajian Umum Rutin Bulanan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Balun Sawahan pada Ahad (18/10/2026). Di Musala Waqaf Balun Sawahan, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, majelis ilmu ini menghadirkan Ustaz Nur Sahlul Mubarak, S.H.I., M.Pd. sebagai pemateri utama.

Dalam tausiahnya, Ustaz Nur Sahlul mengajak seluruh jamaah untuk melakukan penelusuran introspektif terhadap akar-akar dosa yang kerap menggerogoti keikhlasan hidup bermasyarakat maupun beribadah.

Kesombongan: Dosa Pertama dalam Sejarah Peradaban

Akar pertama yang dibedah adalah sifat sombong. Mengulas riwayat awal penciptaan, pemateri mengingatkan bahwa terusirnya Iblis dari surga bukan semata-mata karena enggan bersujud kepada Nabi Adam a.s., melainkan karena ungkapan 'ana khairun minhu', yaitu perasaan yang merasa lebih baik dari pihak lain.

"Sifat sombong adalah dosa paling tua dalam sejarah," tegas Ustaz Sahlul di hadapan para jamaah. Menyitir hadis Rasulullah SAW, beliau menegaskan bahwa hakikat kesombongan terletak pada dua hal utama: menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia.

Di era modern yang dipenuhi riuk pergaulan digital, benih kesombongan kerap terselubung rapi. Merasa paling tekun beribadah, paling luas ilmunya, hingga menganggap remeh ikhtiar orang lain merupakan pemicu terhalangnya seseorang dari keharuman surga.

Ketamakan: Hasrat Berlebihan yang Merobohkan Batas Syariat

Akar dosa kedua yang tak kalah berbahaya adalah sifat tamak atau rakus. Sifat inilah yang dahulu dimanfaatkan Iblis untuk membujuk Nabi Adam a.s. dan Hawa hingga melanggar larangan Allah SWT di surga.

Rasa tidak pernah puas terhadap rezeki yang halal kerap melahirkan perilaku konsumtif, boros, hingga tindakan menghalalkan segala cara. Dalam kehidupan sehari-hari, ketamakan tidak hanya berwujud pada perburuan harta atau jabatan, tetapi juga dalam hal-hal kecil seperti ketidakmampuan menahan keinginan duniawi yang tidak bertepi.

Ustaz Sahlul juga menyoroti tantangan pengasuhan di era digital saat ini, tempat generasi muda hingga lansia rentan terpapar gaya hidup burnout dan konsumerisme akibat godaan yang mengepung gawai. Sifat qana'ah dan kemampuan mengendalikan diri menjadi benteng mutlak agar tidak terjerumus pada perilaku yang merusak.

Hasad: Racun yang Mengikis Kebajikan

Akar penyakit hati ketiga adalah hasad atau iri dengki. Hasad didefinisikan sebagai perasaan tidak senang atas nikmat yang diperoleh orang lain, disertai harapan agar nikmat tersebut sirna.

"Orang yang dihinggapi sifat hasad akan merasa susah melihat orang lain senang, dan merasa senang melihat orang lain susah," paparnya. Dari akar hasad inilah lahir berbagai kerusakan sosial, mulai dari fitnah, ghibah, hingga prasangka buruk yang meretakkan tali ukhuwah.

Sebagai solusinya, Islam mengajarkan setiap muslim untuk senantiasa mendoakan kebaikan dan keberkahan bagi saudaranya yang mendapatkan karunia, seraya melapangkan dada atas setiap ketentuan takdir Allah SWT.

Suasana jamaah yang hadir menyimak Kajian Rutin PRM Balun Sawahan Cepu
Para jamaah Musala Waqaf Balun Sawahan antusias menyimak pemaparan kajian rutin bulanan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Balun Sawahan, Cepu.


Menjaga Komitmen Berkemajuan dari Ranting

Kajian rutin bulanan ini menjadi momentum penting bagi warga Muhammadiyah di Balun Sawahan untuk terus menghidupkan ruh pembinaan diri di tingkat ranting. Melalui pemahaman agama yang lurus dan pembersihan jiwa secara berkelanjutan, gerakan dakwah diharapkan mampu memancarkan keteladanan yang sejuk dan mencerahkan bagi masyarakat sekitar.

Kajian ditutup dengan doa bersama, memohon perlindungan kepada Allah SWT agar senantiasa dijauhkan dari penyakit hati serta diteguhkan dalam kebaikan dan ukhuwah Islamiyah.

0Comments