BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Siasat Mbah Topo Menjaga Api Muhammadiyah Cepu: Dari "Penahanan" Ustadz Suharto hingga Lahirnya Dua Kader Penerus

Siasat Mbah Topo Menjaga Api Muhammadiyah Cepu: Dari "Penahanan" Ustadz Suharto hingga Lahirnya Dua Kader Penerus

Siasat Mbah Topo menjaga api Muhammadiyah Cepu melalui kaderisasi visioner yang melahirkan dua penerus dakwah dari Pondok Modern Gontor.
Table of contents
×
Ilustrasi editorial bergaya sketsa yang menggambarkan Mbah Topo menyaksikan dua kader muda Muhammadiyah berangkat menuntut ilmu ke Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai bagian dari strategi kaderisasi Muhammadiyah Cepu.
Ilustrasi editorial yang merepresentasikan visi pengkaderan Mbah Topo (Drs. H. Sutopo). Melalui keputusan mengirim dua kader muda Cepu ke Pondok Modern Darussalam Gontor untuk dibimbing Ustadz Suharto, estafet perjuangan Muhammadiyah Cepu dipersiapkan secara terencana hingga melahirkan generasi penerus yang mengabdi di tanah kelahirannya.


Dalam gerak persyarikatan, keberlangsungannya kerap kali tidak ditentukan oleh kemegahan gedung atau besarnya dana, melainkan oleh ketajaman intuisi seorang pimpinan dalam mempersiapkan generasi penerus. Di Muhammadiyah Cepu, nama Mbah Topo (Drs. H. Sutopo) bisa dibilang sebagai salah satu sosok perancang estafet perjuangan yang pantang menyerah.

Kisah pengkaderan ini bukan sekadar cerita tentang mengirim anak muda belajar ke pesantren, melainkan sebuah manuver taktis, kepiawaian musyawarah kolektif, dan dedikasi tanpa batas demi memastikan agar ruh persyarikatan di Cepu tidak padam.


Visi Besar Mbah Topo dan Strategi Memulangkan Putra Daerah

Sebagai salah satu pilar dakwah Muhammadiyah di Cepu, Mbah Topo menyadari betul tantangan zaman yang kian kompleks. Peta pergerakan dakwah butuh generasi segar yang tidak hanya berwawasan luas, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai keislaman dan ke-Muhammadiyahan. Mata Mbah Topo saat itu tertuju pada seorang sosok muda potensial, yaitu Ustadz Suharto.

Ustadz Suharto adalah putra asli Balun Sudagaran, Cepu, merupakan putra dari almarhum Mbah Abdul Qodir, yang kini mengabdi sebagai Wakil Direktur Kulliyatu-l-mualimin Al Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor.

Pada waktu itu, Mbah Topo menilai bahwa Ustadz Suharto adalah kader potensial untuk meneruskan dakwah Muhammadiyah Cepu. Maka, hal inilah yang membuat Mbah Topo sangat mendambakan kepulangan Ustadz Suharto ke Cepu.

Rencana awal Mbah Topo sangat jelas: menarik kembali Ustadz Suharto ke tanah kelahirannya untuk membesarkan dan menggerakkan dakwah Muhammadiyah Cepu secara langsung meski takdir dan dinamika pergerakan berkata lain.


Kyai Syukri dan Gagasan Taktis Mbah Topo

Keinginan Mbah Topo untuk memulangkan Ustadz Suharto terbentur dinding tebal dari Pondok Modern Darussalam Gontor. Saat itu, Ustadz Suharto bertugas sebagai pengajar di Gontor. Kapasitas, dedikasi, dan loyalitas Ustadz Suharto membuat Pimpinan Gontor saat itu, KH Abdullah Syukri Zarkasyi (Kyai Syukri), tidak bersedia melepasnya.

Kyai Syukri "menahan" Ustadz Suharto agar tetap mengabdi dan memperkuat barisan pengajar di Gontor. Bagi lembaga sebesar Gontor, keberadaan sosok seperti Ustadz Suharto dianggap sangat krusial. Keputusan ini sempat menempatkan Mbah Topo dalam situasi pelik. Rencana matang yang telah disusun untuk keberlanjutan pembinaan Muhammadiyah Cepu terancam berjalan stagnan jika tidak ada kader muda yang siap memegang kendali.

Di sinilah kejeniusan strategi pengkaderan Mbah Topo diuji. Alih-alih berkecil hati atau memaksakan kehendak, Mbah Topo justru memutar otak dan membaca peluang tersembunyi dari posisi Ustadz Suharto yang bertahan di Gontor.


Keputusan Pleno: Mengirim Dua Kader Muda

Keputusan Kyai Syukri untuk menahan Ustadz Suharto sempat menghadapkan kepengurusan Muhammadiyah Cepu pada pilihan yang tidak mudah. Rencana awal untuk memperkuat gerakan dakwah Muhammadiyah di Cepu terancam tidak berjalan sesuai skenario. Namun, dalam tradisi Muhammadiyah, kebuntuan selalu diselesaikan melalui ruang-ruang musyawarah yang matang.

​Mbah Topo tidak tinggal diam. Beliau segera membawa persoalan ini ke meja rapat pleno kepemimpinan Muhammadiyah Cepu. Dalam forum tersebut, hadir para pimpinan dan senior persyarikatan, seperti Mbah Abdul Qodir, Mbah Roziqin, Pak Parno, Pak Mustakim, serta jajaran pimpinan lainnya. Mbah Topo kemudian menawarkan gagasan strategis agar persyarikatan tidak terpaku pada satu pilihan, melainkan mengambil langkah terobosan baru demi menyelamatkan masa depan pengkaderan.

​Gagasan yang diajukan Mbah Topo berfokus pada jalan keluar yang rasional: apabila Ustadz Suharto belum memungkinkan untuk ditarik pulang memimpin Cepu pada saat itu, maka langkah terbaik adalah mengirimkan kader-kader muda dari Cepu ke Gontor. Dengan demikian, para kader muda tersebut bisa menimba ilmu sekaligus mendapatkan pembinaan langsung di bawah bimbingan Ustadz Suharto.

​Usulan dari Mbah Topo ini disambut hangat dan disepakati dalam rapat pleno tersebut. Forum menyadari bahwa meski Ustadz Suharto tidak bisa pulang secara fisik, keberadaan beliau di Gontor adalah aset emas yang harus dimanfaatkan sebagai jembatan pengkaderan.

Berdasarkan mandat hasil rapat pleno tersebut, Muhammadiyah Cepu merancang langkah konkret dengan memilih dua kader muda untuk dikirim belajar ke Gontor, yaitu Zaenal Arifin dan Ahmad Furqony.

Langkah pengiriman Zaenal Arifin dan Ahmad Furqony ini mengandung siasat pembinaan yang sangat rapi. Karena Ustadz Suharto masih menjadi guru di Gontor, Mbah Topo dan para pimpinan Cepu berpikir bahwa Ustadz Suharto mampu untuk melakukan pendampingan dan pembimbingan secara langsung kepada kedua kader tersebut selama mereka menempuh pendidikan.

Selama bertahun-tahun di Gontor, Zaenal Arifin dan Ahmad Furqony tidak hanya menyerap disiplin dan keilmuan khas pesantren, tetapi juga secara berkala mendapatkan arahan ideologis, motivasi, serta wawasan dari Ustadz Suharto. Rantai pembinaan ini menjaga keterikatan emosional dan komitmen kedua kader muda tersebut terhadap tanah kelahiran mereka.


Buah Manis Estafet Perjuangan

Tahun demi tahun berlalu, investasi pengkaderan panjang yang digagas Mbah Topo dalam mencetak kader akhirnya membuahkan hasil. Beberapa tahun setelah menyelesaikan masa studi dan penggemblengan di Gontor, Zaenal Arifin dan Ahmad Furqony kembali ke tanah kelahiran mereka di Cepu.

Sebagaimana cita-cita dan doa Mbah Topo, kedua kader tersebut kini benar-benar mendedikasikan hidup, tenaga, dan pikirannya untuk mengabdi bagi Muhammadiyah Cepu. Mereka menjadi pilar-pilar yang menggerakkan roda organisasi, menghidupkan majelis-majelis dakwah, dan mengelola amal usaha persyarikatan dengan spirit gontoriyyah dan ke-Muhammadiyah-an yang kental.

Kehadiran Zaenal Arifin dan Ahmad Furqony membuktikan bahwa gagasan pengkaderan yang diusulkan Mbah Topo berhasil, meski harus menempuh jalur dan tantangan yang tidak mudah.


Refleksi dari Ustadz Suharto: Kontinuitas Pembinaan adalah Kunci

Mengenang kembali perjalanan panjang pengkaderan tersebut, Ustadz Suharto menceritakan bahwa apa yang dilakukan oleh Mbah Topo adalah cerminan dari prinsip dasar pengkaderan yang sejati. Menurut beliau, keberhasilan pergerakan seperti Muhammadiyah Cepu tidak boleh bergantung pada satu figur semata, melainkan pada kontinuitas pembinaan kader yang terencana dan sistematis.

Langkah taktis yang diwariskan Mbah Topo telah membuktikan bahwa regenerasi perjuangan adalah jantung dari organisasi. Tanpa adanya pembinaan kader secara berkelanjutan, ruh perjuangan dan dinamika pergerakan persyarikatan perlahan akan redup dimakan zaman.

Sesuai dengan harapan Mbah Topo, Mbah Abdul Qodir, Mbah Roziqin, Pak Parno, Pak Mustakim, dan seluruh jajaran pimpinan cabang yang dahulu merapatkannya, kedua kader tersebut kini benar-benar mendedikasikan hidup dan pengabdiannya untuk Muhammadiyah Cepu.

Kisah ini sudah cukup menjadi teladan bagi pimpinan dan penggerak persyarikatan di mana pun, bahwa melahirkan seorang kader memerlukan kejelian membaca situasi, keberanian mengambil keputusan, serta komitmen untuk terus mendampingi hingga sang kader siap dilepas menjaga benteng dakwah di masyarakat.

Apa yang dicontohkan Mbah Topo dan koleganya melalui rapat pleno masa lalu memberikan pelajaran berharga, bahwa ruh perjuangan dan gerakan persyarikatan akan tetap terjaga selama rantai pengkaderan tidak pernah terputus.

0Comments