Cepu, Rabu, 6 Mei 2026 — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Cepu kembali menyelenggarakan kajian rutin bulanan yang bertempat di Masjid TAQWA Cepu. Kegiatan ini menghadirkan pemateri Ust. Anas Aulia Irhami, S.Pd., yang menyampaikan materi tentang nikmat Allah yang tidak terhitung, pentingnya sabar dalam ibadah, serta keutamaan bulan-bulan haram.
Kajian diawali dengan penampilan tahfidz Al-Qur’an dari santri TPQ Faskho 2, yang menambah kekhidmatan suasana dan menjadi penyemangat bagi jamaah untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an. Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan dari LAZISMU KL Cepu.
Nikmat Allah yang Tak Terhitung
Dalam penyampaiannya, Ustadz Anas menegaskan bahwa nikmat Allah kepada manusia sangatlah banyak dan tidak mungkin dapat dihitung. Setiap detik kehidupan manusia dipenuhi dengan karunia Allah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Beliau mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur dengan cara meningkatkan ibadah, menjaga keimanan, dan menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah.
Sabar sebagai Kunci Pertolongan Allah
Pemateri juga menyampaikan pentingnya sabar dalam menjalani kehidupan, sebagaimana firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Ayat ini menegaskan bahwa sabar dan shalat merupakan kunci utama dalam menghadapi ujian kehidupan, serta sarana untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT.
Dzulqa’dah: Bulan Haram yang Dimuliakan
Ustadz Anas juga menjelaskan bahwa bulan Dzulqa’dah termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ ... مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah... di antaranya ada empat bulan haram.”
(QS. At-Taubah: 36)
Beliau menjelaskan bahwa dalam tradisi masyarakat, bulan Dzulqa’dah sering dimaknai secara beragam. Secara bahasa, Dzulqa’dah memiliki dua makna, yaitu:
- Berdiam diri, karena pada masa dahulu orang-orang Arab menghentikan peperangan;
- Kedudukan, sebagai bulan yang memiliki kemuliaan di sisi Allah.
Keutamaan 10 Hari Awal Dzulhijjah
Selain itu, beliau menyampaikan hadits tentang keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟
قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
(رواه البخاري)
Artinya:
"Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah melebihi hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah)."
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun.”
(HR. Bukhari)
Penjelasan:
Hadits ini menunjukkan bahwa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu terbaik untuk memperbanyak amal shalih, seperti shalat, puasa, dzikir, dan sedekah. Bahkan keutamaannya melebihi banyak amalan di hari-hari lainnya.
Penutup
Kajian rutin bulanan ini berlangsung dengan penuh antusias dan memberikan pemahaman mendalam kepada jamaah tentang pentingnya mensyukuri nikmat Allah, bersabar dalam menghadapi kehidupan, serta memanfaatkan waktu-waktu mulia dalam Islam.
Melalui kegiatan ini, PRM dan PCA Cepu berharap jamaah semakin meningkatkan kualitas iman dan amal, serta mampu menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi pribadi yang lebih baik dan diridhai Allah SWT.

0Comments