BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Materi Khutbah Jumat Ketika Nama Allah Membuat Hati Bergetar

Materi Khutbah Jumat Ketika Nama Allah Membuat Hati Bergetar

Tubuh manusia diciptakan dengan sistem respons yang luar biasa. Ketika kita dihadapkan pada bahaya, jantung kita berdetak kencang memompa adrenalin. K
Table of contents
×

Khutbah Jumat: Ketika Nama Allah Membuat Hati Bergetar

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ قُلُوبَ الْمُؤْمِنِينَ تَجِلُ منْ ذِكْرِهِ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
قال الله تعالى:. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Mengawali khutbah di hari yang penuh sayyidul ayyam ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa memperbarui dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa yang menjadi pembatas antara kita dan kemaksiatan, serta pendorong utama menuju ketaatan.

Jamaah rahimakumullah,

Tubuh manusia diciptakan dengan sistem respons yang luar biasa. Ketika kita dihadapkan pada bahaya, jantung kita berdetak kencang memompa adrenalin. Ketika kita mendengar kabar duka, kelenjar air mata kita bereaksi seketika. Itu adalah respons fisik yang alami terhadap stimulus duniawi.

Namun, pernahkah kita mempertanyakan respons fisik dan batin kita terhadap stimulus ukhrawi? Bagaimana reaksi jantung dan tubuh kita ketika nama Dzat Yang Menciptakan jantung itu sendiri yaitu Allah Azza wa Jalla disebut di hadapan kita? Apakah ia bergetar, ataukah diam tak merasa apa-apa?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 2:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

Mari kita berfokus pada kalimat wajilat qulubuhum (gemetarlah hati/jantung mereka).

Bagaimana para ulama ahli tafsir dan hadis memaknai ayat ini? Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim membawakan penjelasan dari pimpinan ahli tafsir di kalangan sahabat, yakni Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu Abbas berkata: “Orang-orang munafik, tidak ada sedikit pun nama Allah yang masuk ke dalam hati mereka saat mengerjakan kewajiban. Mereka juga tidak beriman sedikitpun terhadap ayat-ayat Allah tidak bertawakkal, tidak shalat sendirian dan tidak menunaikan zakat dari harta kekayaan mereka. Akan tetapi, orang-orang mukmin sejati, apabila disebut nama Allah, hati mereka merasa takut (wajal).”

Lebih tajam lagi, ulama salaf bernama As-Suddi rahimahullah memberikan ilustrasi nyata tentang apa itu wajilat qulubuhum. Beliau menafsirkan ayat ini dengan berkata: “Ia adalah seorang laki-laki yang hendak mendzalimi orang lain atau hendak berbuat maksiat lalu ada yang menegurnya, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah!’ Maka seketika itu juga hatinya bergetar ketakutan (dan ia mengurungkan niat buruknya).”

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Getaran hati ini bukanlah ketakutan fobia seperti takut kepada binatang buas. Ini adalah rasa takut yang lahir dari pengagungan (ta’zhim) dan cinta (mahabbah). Orang yang sangat mencintai dan mengagungkan Rabb-nya, akan ketar-ketir jantungnya karena khawatir amalnya tidak diterima, khawatir murka-Nya turun, dan rindu akan perjumpaan dengan-Nya.

Jika kita melihat sejarah para sahabat dan ulama terdahulu, respons fisik ini sangat nyata. Hati mereka begitu hidup.

Diriwayatkan bahwa Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu suatu malam mendengar seseorang membaca Surah Ath-Thur ayat 7: “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi.” Mendengar satu ayat itu saja, dada Umar sesak, nafasnya tersengal, dan ia jatuh sakit berhari-hari sehingga orang-orang datang menjenguknya. Hatinya bergetar hebat merespons firman Tuhannya.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ »

“Rasulullah bersabda: Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sampai air susu kembali masuk ke dalam putingnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1633, beliau berkata: Hasan Shahih).

Lalu, bagaimana dengan kita hari ini? Berapa kali azan berkumandang menyebut Allahu Akbar, namun detak jantung kita biasa-biasa saja? Berapa sering ayat suci Al-Qur’an dibacakan di dekat kita, namun kita lebih asyik dengan layar telepon genggam kita tanpa ada getaran sedikit pun di dalam dada?

Jika hati ini sudah tidak lagi bergetar ketika asma Allah disebut, itu adalah sinyal peringatan darurat bahwa tumpukan debu duniawi dan dosa mungkin telah mengerakkan hati kita.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kembali hati kita yang mati, melembutkan hati kita yang keras, dan mengaruniakan kita rasa takut dan getar pengagungan kepada-Nya, sebagaimana hati para hamba-Nya yang shaleh.

بَارَكَ الله ُلِى وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ.
اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ اكْفِنا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

والحمد لله رب العالمين.

0Comments