Khutbah Idul Fitri
Hadirin jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,
Di pagi yang penuh barakah ini, gema takbir, tahlil, dan tahmid bersahut-sahutan memecah keheningan, mengagungkan asma Allah Azza wa Jalla. Hari ini adalah hari kemenangan, hari di mana wajah-wajah orang beriman berseri-seri penuh rida dan harapan. Mengawali khutbah di hari yang fitri ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian: marilah kita pertahankan dan tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah, karena ketakwaan adalah sebaik-baik bekal menuju kampung akhirat.
Jamaah rahimakumullah,
Selama satu bulan penuh di bulan suci Ramadhan, kita telah menempuh “madrasah” spiritual. Kita menahan lapar dan dahaga, membasahi lisan dengan dzikir dan tilawah, serta menghidupkan malam dengan qiyamul lail. Semua itu kita lakukan demi satu tujuan: merontokkan debu-debu dosa yang selama ini melekat dan mengotori jiwa kita.
Hari ini, Idul Fitri, secara harfiah berarti kembali kepada kesucian. Ibarat bayi yang baru lahir, seorang mukmin yang puasanya diterima oleh Allah akan kembali bersih tanpa noda dosa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-A’la ayat 14-15:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” (QS. Al-A’la: 14-15)
Bagaimana para ulama ahli tafsir dan hadis menjelaskan ayat ini dalam konteks Idul Fitri?
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menukil riwayat dari sahabat yang mulia, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa makna “menyucikan diri” pada ayat tersebut adalah menunaikan Zakat Fitrah. Kemudian makna “mengingat nama Tuhannya lalu shalat” adalah bertakbir dan melaksanakan shalat Idul Fitri.
“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra ia berkata: Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitri untuk mensucikan diri orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan kotor serta untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum shalat Id, maka ia adalah zakat yang diterima, dan barang siapa yang menunaikannya sesudah shalat Id, maka itu hanyalah sekedar sedekah.”
Hadirin yang berbahagia,
Lihatlah betapa sempurnanya syariat Islam. Puasa kita selama Ramadhan mungkin tidak luput dari cacat mungkin mata kita masih melihat yang haram, lisan kita tanpa sadar menggunjing saudara kita, atau hati kita diselimuti riya’. Semua itu adalah debu dosa yang mengotori ibadah puasa kita. Maka, di penghujung Ramadhan, Allah syariatkan zakat fitrah sebagai tuhrah (pembersih/penyuci) agar amal kita layak diangkat dan diterima di sisi-Nya.
Seringkali kita salah memaknai Idul Fitri. Kita mengira kemenangan hanya ditandai dengan baju yang baru, hidangan yang mewah, dan rumah yang megah. Padahal, esensi Idul Fitri jauh lebih dalam dari itu.
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya yang fenomenal, Latha’if al-Ma’arif, membawakan sebuah ungkapan indah dari para ulama salaf:
“Bukanlah Idul Fitri itu bagi orang yang memakai pakaian baru, akan tetapi Idul Fitri itu adalah bagi mereka yang ketaatannya bertambah. Bukanlah Idul Fitri itu bagi orang yang memperindah penampilannya dengan pakaian dan kendaraan, akan tetapi Idul Fitri itu adalah bagi mereka yang dosa-dosanya telah diampuni.”
Maka, wajah yang benar-benar berseri di hari Idul Fitri bukanlah wajah yang dipoles dengan kemewahan dunia, melainkan wajah yang bercahaya karena bekas air wudhu, bekas air mata taubat di sepertiga malam Ramadhan, dan wajah yang tenang karena yakin dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah Sang Maha Pengampun.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal ibadah puasa, qiyam, dan sedekah kita, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang benar-benar terlahir kembali dalam keadaan suci.
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ
Di hari yang suci ini, mari kita sempurnakan kesucian hati kita dengan saling memaafkan. Bukalah pintu maaf selebar-lebarnya untuk saudara kita, tetangga kita, dan keluarga kita. Terutama, peluklah kedua orang tua kita jika mereka masih ada, bersimpuhlah, dan mintalah ridanya. Karena tidak ada artinya puasa dan shalat kita jika kita masih memendam dendam dan memutus tali silaturahmi.


0Comments