Khutbah Idul Fitri: Mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur
Maasyiral Muslimin Rohimakumullah
Marilah kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas berbagai kenikmatan yang telah dikaruniakan kepada kita semua. Pagi hari ini, seluruh umat Islam mengagungkan asma-Nya, melantunkan takbir, tasbih serta tahlil. Setelah selesai melaksanakan rangkaian ibadah bulan Ramadlan. Doa dan harapan hanya kepada Allah, mudah-mudahan ibadah dan amal-amal kita pada bulan Ramadlan benar-benar membawa kita menjadi pribadi yang bertaqwa, pribadi yang sanggup berperan sebagai khalifah di muka bumi, sehingga terwujud alam yang damai, sejahtera dalam naungan rahmat Allah SWT.
Ma’aasyirol muslimin Rahimakumullah
Bulan Ramadlan yang baru saja kita lewati bersama, merupakan bulan yang sangat istimewa, demikian istimewanya sehingga disebut sebagai sayyidusy syuhuur, penghulunya bulan. Ramadlan adalah bulan yang mempunyai efek kebaikan sangat luas, tidak hanya bersifat personal tetapi bisa bersifat sosio kultural yakni kondisi kehidupan masyarakat yang dibentuk oleh keterkaitan erat antara aspek sosial dan budaya. Konsep ini mencakup norma, nilai, kebiasaan, serta interaksi manusia di dalam masyarakat majemuk. Sosio-kultural berperan sebagai sistem terpadu yang mengatur tingkah laku dan identitas individu. Pada kondisi tersebut, Ramadlan mempunyai peran yang sangat dominan untuk membentuk karakter masyarakat terkait dengan sosio kultural tersebut.
Ma’aasyirol muslimin Rahimakumullah
Pada dasarnya, Ramadlan memiliki efek sosio-kultural yang mendalam, terutama di Indonesia, di mana bulan suci ini mengubah ritme kehidupan harian, pola interaksi sosial, hingga pola hidup dan kebiasaan masyarakat. Ramadlan bukan hanya ibadah ritual, melainkan juga transformasi sosial yang meningkatkan empati, solidaritas, dan memperkuat akar budaya.
Efek Ramadlan terhadap sosio kultural ini dapat kita rasakan seperti ; Pertama, peningkatan solidaritas dan kepedulian sosial, diwujudkan dengan empati sosial sehingga meningkatkan infaq dan sedekah, budaya berbagi takjil, dan aktifitas komunitas seperti buka bersama, tadarrus Al-Quran dan lain-lain. Kedua, perubahan pola perilaku dan kebiasaan masyarakat, diwujudkan dalam ritme hidup baru dengan perubahan jam kerja dan pola makan termasuk makan sahur, tradisi ngabuburit serta pengendalian diri dan medsos yakni menahan diri dari ujaran kebencian di media sosial dan lebih berfokus pada konten positif.
Selanjutnya yang ketiga, penguatan budaya dan tradisi lokal (Indonesia), diwujudkan dengan tradisi mudik yang berfungsi sebagai reproduksi sosial, menjalin kembali silaturahmi, dan memperkuat akar tradisi, seni dan budaya lokal yakni berbagai tradisi daerah menyambut Ramadlan seperti tradisi membangunkan sahur.
Keempat, dampak ekonomi terhadap budaya konsumsi, diwujudkan dalam lonjakan konsumsi seperti perubahan pola makan, peningkatan konsumsi pada barang-barang tertentu, yang memicu tradisi “berburu diskon” dan peningkatan perputaran uang di pasar tradisional maupun modern. Belum lagi budaya THR yakni pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) mendorong peredaran uang yang memperkuat ekonomi di tingkat daerah pada saat mudik.
Ma’aasyirol muslimin Rahimakumullah
Demikianlah, fenomena perubahan sosio kultural yang terjadi di bulan Ramadlan. Semestinya perubahan tersebut berimbas pada pembentukan karakter bangsa yang lebih arif, bijak dan berdampak sosial yang lebih luas sehingga Ramadlan bisa membawa bangsa ini menuju kondisi yang disebutkan di dalam Al-Quran pada surat Saba’ ayat 15, baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghafuur negeri yang aman, subur dan makmur penuh ridlo dan ampunan Allah Ta’ala.
Firman Allah SWT :
Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda kekuasaan Tuhan di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. kepada mereka dikatakan: “Makanlah olehmu dari rezeki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kalian kepada-Nya. Negerimu adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.
Syaikh Wahbah Az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Wajiiz menyampaikan bahwa ayat tersebut berkenaan dengan Kabilah Saba’, satu kabilah yang terkenal di negeri Yaman, ada tanda yang menunjukkan bukti adanya Allah serta kekuasaan dan keesaan-Nya.
Tentu hal tersebut sangat berbeda apabila dikaitkan dengan fenomena yang terjadi di negeri kita, Indonesia. Pengelolaan negara dan bangsa yang belum ideal, menjadi tema-tema paling aktual pada saat ini.
Istilah “Pengelolaan Negara yang belum ideal” menggambarkan kondisi yang rumit mencakup berbagai aspek, mulai dari sistem hukum, administrasi pemerintahan, demokrasi, hingga isu-isu sosial-ekonomi. Permasalahan ini sering kali berakar pada lemahnya tata kelola, kurangnya transparansi, serta kebijakan yang tidak merata.
Ma’aasyirol muslimin Rahimakumullah
Lantas bagaimana mewujudkan baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, negeri yang aman, subur dan makmur penuh ridho dan ampunan Allah Ta’ala ?
Paling tidak ada syarat untuk mewujudkannya dengan merujuk pada integrasi iman, taqwa, dan perilaku mulia penduduknya.
Pertama, Ketaatan kepada Allah yakni iman & taqwa.
Kedua, Akhlak mulia dan kesyukuran atas nikmat.
Ketiga, Pemimpin yang adil dan amanah.
Keempat, Hubungan harmonis antara rakyat dan pemerintah.
Kelima, Keseimbangan urusan dunia dan akhirat.
Para jamaah rahimakumullah, sebelum khutbah ini kami tutup, kami mengajak para jamaah sekalian, untuk merenungkan kembali firman Allah SWT pada surat Al-A’rof ayat 96 :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.
Kunci keberkahan Allah itu terdapat pada keimanan dan ketaqwaan yang dikelola dengan baik. Oleh karena itu, kita senantiasa berdoa dan berupaya, semoga kita semuanya tetap mendapatkan jalan yang konsisten untuk terus menjaga iman dan taqwa sampai akhir kehidupan kita.


0Comments