BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Kultum Muhasabah Diri: Jalan Menuju Ketakwaan di Bulan Ramadhan

Kultum Muhasabah Diri: Jalan Menuju Ketakwaan di Bulan Ramadhan

Pada hari Senin, 2 Maret 2026, ba’da sholat Subuh berjamaah di Masjid Taqwa Cepu, jamaah mendapatkan tausiyah yang penuh hikmah dari Ust. Muhammad Bag
Table of contents
×

Pada hari Senin, 2 Maret 2026, ba’da sholat Subuh berjamaah di Masjid Taqwa Cepu, jamaah mendapatkan tausiyah yang penuh hikmah dari Ust. Muhammad Baghiz. Dalam kultum tersebut, beliau mengangkat tema penting tentang muhasabah diri sebagai salah satu jalan untuk mencapai ketakwaan, khususnya di bulan suci Ramadhan.

Muhasabah diri adalah upaya introspeksi atau menghitung-hitung diri sendiri atas segala amal yang telah dilakukan. Dengan muhasabah, seseorang dapat mengetahui kekurangan dan kesalahan dirinya, lalu berusaha memperbaikinya. Hal ini menjadi kunci penting dalam perjalanan menuju pribadi yang lebih baik dan bertakwa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa bulan Ramadhan adalah momentum terbaik untuk melakukan muhasabah diri. Setidaknya ada beberapa alasan utama mengapa Ramadhan menjadi waktu yang tepat:

Pertama, saat hawa nafsu lebih terkendali.
Di bulan Ramadhan, umat Islam menjalankan ibadah puasa yang melatih diri untuk menahan hawa nafsu. Dengan kondisi ini, hati menjadi lebih jernih sehingga lebih mudah melihat kekurangan diri tanpa tertutupi oleh ego dan emosi.

Kedua, saat pahala dilipatgandakan.
Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Ini menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki kekurangan amal dengan memperbanyak ibadah seperti sholat sunnah, sedekah, dan membaca Al-Qur’an.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.” (HR. Muslim)

Ketiga, dalam rangka menyambut malam Lailatul Qadar.
Orang yang terbiasa bermuhasabah akan merasa dirinya penuh kekurangan dan sangat membutuhkan ampunan Allah. Sikap ini akan mendorongnya untuk lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah, khususnya di malam-malam terakhir Ramadhan demi meraih kemuliaan Lailatul Qadar.

Allah berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Di akhir tausiyahnya, Ust. Muhammad Baghiz mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan diri. Muhasabah bukan sekadar menyesali kesalahan, tetapi juga menjadi langkah nyata untuk memperbaiki amal dan meningkatkan kualitas ibadah.

Semoga dengan muhasabah diri yang terus dilakukan, kita dapat meraih derajat ketakwaan dan menjadi pribadi yang lebih baik, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga di bulan-bulan setelahnya.

0Comments