BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Belajar dari Imam Bukhari: Cara Bijak Menyaring Berita di Era Banjir Informasi

Belajar dari Imam Bukhari: Cara Bijak Menyaring Berita di Era Banjir Informasi

Table of contents
×
Jamaah menyambut pesan keteladanan Imam Bukhari yang disampaikan oleh Ustadz Bambang Supriyono, S. Ag., S. Pd.

Di tengah hiruk-pikuk hoaks yang bertebaran, sosok Imam Bukhari hadir sebagai inspirasi literasi bagi warga Cepu dalam khutbah Idul Fitri di Lapangan Ronggolawe, Jumat (20/3). Ustadz Bambang Supriyono, S. Ag., S. Pd. menegaskan bahwa perjalanan berhari-hari sang Imam demi satu kebenaran harus menjadi cermin bagi netizen masa kini.

Ustadz Bambang menekankan bahwa di tengah gempuran disrupsi informasi, umat Islam sering kali terjebak menjadi konsumen pasif. Akibatnya, banyak individu yang mudah terprovokasi oleh narasi yang belum jelas kebenarannya di media sosial. Oleh karena itu, ia mengajak jemaah untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam dalam menyaring berita.

Meneladani Ketelitian Imam Bukhari 
Salah satu rujukan utama yang ia angkat adalah sosok Muhammad bin Ismail atau yang lebih dikenal sebagai Imam Bukhari. Tokoh besar ini dikenal memiliki standar akurasi yang sangat tinggi sebelum menetapkan sebuah informasi sebagai kebenaran. Ketelitian Imam Bukhari dalam memverifikasi setiap hadis menjadi bukti nyata bahwa Islam sangat mengagungkan validitas data.

"Imam Bukhari adalah sosok yang paling teliti dalam menilai berita atau kabar. Beliau bahkan rela melakukan perjalanan berhari-hari hanya untuk menemui seorang ahli hadits guna memastikan kebenaran satu riwayat," ujar Ustadz Bambang Supriyono, S. Ag., S. Pd. di hadapan jemaah Lapangan Ronggolawe.

Etika Digital dan Tanggung Jawab Sosial
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa prinsip ketelitian tersebut sangat krusial agar seseorang tidak menyakiti orang lain melalui informasi yang salah. Perilaku asal bagikan (share) tanpa proses verifikasi yang matang dapat memicu fitnah dan perpecahan di masyarakat. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip dasar seorang mukmin yang menjaga lisan dan perbuatannya.

"Muslim yang Rahmatan lil 'Alamin adalah mereka yang bisa membalas kebencian dengan kebaikan, serta meredam api amarah dengan kesejukan akhlak," tegasnya. Menurutnya, setiap unggahan di media sosial seharusnya menjadi sarana dakwah yang menyejukkan, bukan justru menjadi arena adu domba.

Sebagai penutup, Ustadz Bambang mengingatkan bahwa kesalehan digital harus berbanding lurus dengan tindakan nyata. Ia berharap para pemuda Muslim mampu bertransformasi menjadi kreator dan inovator yang membawa solusi bagi umat. 

Dengan demikian, teknologi tidak lagi menjadi ancaman, melainkan alat untuk menyebarkan kemaslahatan secara luas.

0Comments