BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
rasa syukur dan rasa malu dalam kehidupan seorang muslim - Ust. Catur Wira Wismanggal, S.Pd.I

rasa syukur dan rasa malu dalam kehidupan seorang muslim - Ust. Catur Wira Wismanggal, S.Pd.I

Kegiatan kultum bakda sholat Tarawih di Masjid Taqwa Cepu pada Jumat, 27 Februari 2026 berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan antusiasme jamaah.
Table of contents
×

Masjid Taqwa Cepu, Jumat 27 Februari 2026

Kegiatan kultum bakda sholat Tarawih di Masjid Taqwa Cepu pada Jumat, 27 Februari 2026 berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan antusiasme jamaah. Kultum disampaikan oleh Ustadz Catur Wira Wismanggal, S.Pd.I dengan mengangkat tema penting tentang rasa syukur dan rasa malu dalam kehidupan seorang muslim.

Di awal penyampaiannya, beliau mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah Allah ﷻ berikan, seperti nikmat iman, Islam, kesehatan, serta kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Rasa syukur ini hendaknya tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk ketaatan dan peningkatan ibadah.

Allah ﷻ berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)

Selanjutnya, beliau menyampaikan tema utama tentang pentingnya memiliki rasa malu (al-haya’) dalam kehidupan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa malu tidaklah datang kecuali membawa kebaikan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ustadz Catur Wira Wismanggal menjelaskan bahwa para ulama membagi rasa malu menjadi beberapa bentuk yang harus dimiliki oleh setiap muslim:

1. Malu kepada Allah ﷻ
Seorang hamba hendaknya merasa malu kepada Allah ketika melanggar perintah-Nya. Misalnya, di bulan Ramadhan masih ada yang meninggalkan puasa tanpa uzur. Rasa malu kepada Allah akan mendorong seseorang untuk lebih taat dan menjauhi maksiat.

2. Malu kepada sesama manusia
Rasa malu juga tercermin dalam menjaga hubungan dengan sesama. Seorang muslim hendaknya malu untuk menyakiti hati orang lain, seperti berkata kasar, menggunjing (ghibah), atau berbuat zalim. Dengan rasa malu ini, hubungan sosial akan terjaga dengan baik.

3. Malu kepada diri sendiri
Malu kepada diri sendiri berarti menyadari kekurangan dan dosa yang dimiliki, sehingga mendorong diri untuk terus memperbaiki amal. Seorang muslim hendaknya merasa belum cukup dalam beribadah dan terus berusaha meningkatkan kualitas diri di hadapan Allah ﷻ.

Sebagai penguat, Allah ﷻ juga mengingatkan pentingnya menjaga sikap dan perbuatan:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?”
(QS. Al-‘Alaq: 14)

Di akhir kultum, beliau berpesan agar jamaah menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk memperkuat rasa syukur dan menumbuhkan rasa malu dalam arti yang positif, sehingga mampu membentuk pribadi yang lebih baik, berakhlak mulia, dan semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kegiatan kultum ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan, khususnya di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

0Comments