BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Puasa sebagai Jalan Menuju Derajat Taqwa - Drs. Choirul Anam, M.Pd

Puasa sebagai Jalan Menuju Derajat Taqwa - Drs. Choirul Anam, M.Pd

Refleksi Kultum Bakda Shalat Tarawih di Masjid Taqwa Cepu Senin malam, 23 Februari 2026, suasana Masjid Taqwa Cepu terasa khusyuk setelah pelaksanaan
Table of contents
×

Refleksi Kultum Bakda Shalat Tarawih di Masjid Taqwa Cepu

Senin malam, 23 Februari 2026, suasana Masjid Taqwa Cepu terasa khusyuk setelah pelaksanaan shalat Isya dan Tarawih berjamaah. Jamaah kemudian mendapatkan tausiyah dalam kultum yang disampaikan oleh Ust. Drs. Choirul Anam, M.Pd. Dalam penyampaiannya, beliau mengajak jamaah memahami hakikat puasa sebagai sarana meningkatkan iman dan meraih derajat taqwa.

Landasan Puasa dalam Al-Qur’an

Kultum diawali dengan firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi memiliki tujuan utama, yaitu membentuk pribadi yang bertaqwa.

1. Seruan untuk Orang-Orang Beriman

Ayat tersebut diawali dengan panggilan “Wahai orang-orang yang beriman”, menunjukkan bahwa puasa adalah perintah khusus bagi mereka yang memiliki iman.

Iman bukan hanya sekadar pengakuan, tetapi mencakup tiga hal:

  • Meyakini dalam hati
  • Diucapkan dengan lisan
  • Dibuktikan dengan amal perbuatan

Dalam ajaran Islam, rukun iman berjumlah enam, dan para ulama seperti Imam Al Baihaqi menjelaskan bahwa cabang iman sangat banyak, bahkan mencapai puluhan cabang. Hal ini menunjukkan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang, sehingga harus senantiasa dijaga dan ditingkatkan.

2. Perintah Berpuasa (Siyam)

Puasa (siyam) secara makna adalah menahan diri. Tidak hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari hal-hal yang membatalkan dan mengurangi nilai puasa, seperti:

  • Menahan hawa nafsu
  • Menjaga lisan dari perkataan buruk
  • Mengendalikan emosi

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa esensi puasa adalah pengendalian diri secara menyeluruh.

3. Tujuan Akhir: Menjadi Orang Bertaqwa

Puncak dari ibadah puasa adalah terbentuknya pribadi yang bertaqwa, yaitu orang yang senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dalam setiap keadaan.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Derajat taqwa inilah yang menjadi ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah, bukan harta, jabatan, atau kedudukan.

Penutup

Melalui kultum ini, jamaah diingatkan bahwa puasa Ramadhan adalah sarana pendidikan iman. Dengan menjaga kualitas iman, menahan diri dari segala yang dilarang, serta meningkatkan amal ibadah, diharapkan kita mampu meraih derajat taqwa sebagaimana tujuan utama disyariatkannya puasa.

Semoga Allah ﷻ menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang bertaqwa. Aamiin.

0Comments