BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Pentingnya Bonding Ayah dan Anak: Perspektif Islam dan Keluarga Sakinah

Pentingnya Bonding Ayah dan Anak: Perspektif Islam dan Keluarga Sakinah

Membangun ikatan batin (bonding) antara ayah dan anak bukan sekadar urusan domestik, melainkan amanah fundamental dalam Islam untuk menjaga fitrah dan
Table of contents
×
Bonding Ayah dan Anak Islam
Upaya membangun ikatan batin atau bonding antara ayah dan anak sering kali dipandang sebagai urusan domestik yang sederhana. Dalam perspektif Islam, relasi ini merupakan amanah agama yang bersifat fundamental.

Anak dipandang sebagai amanat Allah yang memiliki hak melekat atas pengasuhan, perlindungan, dan pengembangan potensi spiritualnya. Ayah hadir bukan sekadar peran sosial, melainkan sebagai pendidik dan pelindung utama.

Benteng Terhadap Kelemahan

Allah SWT memerintahkan orang tua agar memiliki kekhawatiran yang konstruktif terhadap masa depan keturunannya. Hal ini tertuang dalam firman-Nya:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا “Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah... Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)

Ayat ini menegaskan bahwa kehadiran ayah dituntut menjadi benteng dari segala bentuk kelemahan, baik ekonomi, mental, sosial, maupun spiritual.

Hadir Melalui Mawaddah dan Rahmah

Keterlibatan langsung ayah dalam aktivitas harian, termasuk bermain, adalah ruang penting untuk menumbuhkan kelekatan emosional. Prinsip kasih sayang ini sejalan dengan spirit keluarga sakinah:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً “...Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang (mawaddah dan rahmah).” (QS. Ar-Rum: 21)

Perlindungan dari "Api Neraka" Kehidupan

Tanggung jawab pengasuhan bertujuan menjaga keluarga dari kesengsaraan dunia dan akhirat. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ... “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6)
Makna "neraka" mencakup segala bentuk kehancuran hidup, termasuk rusaknya masa depan anak akibat kekerasan, pengabaian, perundungan, hingga penyalahgunaan narkoba.

Ayah Sebagai Arsitek Peradaban

Secara filosofis, istilah ibn (anak) berasal dari kata bana–yabni yang bermakna membangun. Anak adalah bangunan peradaban, dan ayah berperan sebagai arsitek utamanya.

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Tidaklah manusia dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orangtuanya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” (HR. Abu Hurairah)

Melalui kedekatan emosional yang dibangun dengan kasih sayang, ayah menciptakan ruang aman bagi anak untuk tumbuh sesuai fitrahnya, melahirkan penghormatan terhadap hak hidup dan perkembangannya.

Referensi:
1. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah” (2015).
2. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Fikih Perlindungan Anak” (2024).

0Comments