BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Hukum Mengazani Bayi Baru Lahir: Antara Tradisi, Doa, dan Derajat Hadis

Hukum Mengazani Bayi Baru Lahir: Antara Tradisi, Doa, dan Derajat Hadis

Apakah sunnah mengazani telinga bayi yang baru lahir? Simak tinjauan hadis, pandangan Muhammadiyah, dan cara terbaik menyambut kelahiran anak dalam Is
Table of contents
×
Hukum Mengazani Bayi Baru Lahir

Kelahiran seorang anak selalu disambut dengan gembira disertai doa dan harapan. Di tengah ragam praktik di masyarakat, satu pertanyaan kerap muncul: apakah ketika anak lahir disunnahkan untuk diazani?

Anjuran Mendoakan Bayi

Hal pertama yang disepakati adalah anjuran mendoakan bayi agar mendapat keberkahan. Rasulullah SAW memberikan teladan nyata dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ، وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُ إِلَيَّ “Telah lahir anak bagiku, lalu aku membawanya kepada Nabi Muhammad saw. Beliau memberinya nama Ibrahim, kemudian mengunyahkan kurma (tahnik) dan mendoakannya dengan keberkahan.” (HR. al-Bukhari)

Landasan Al-Qur'an

Doa perlindungan spiritual bagi bayi memiliki akar kuat, seperti doa istri Imran ketika melahirkan Maryam:

“...Aku menamainya Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada-Mu dari setan yang terkutuk.” (QS. Ali ‘Imran: 36)

Tinjauan Hukum Azan di Telinga Bayi

Di sinilah letak diskusi ilmiah para ulama. Dalam masyarakat Muslim, azan sering dianggap sunnah, namun kajian mendalam menunjukkan hal berbeda terkait kekuatan dalilnya.

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ. “...Aku melihat Rasulullah saw. mengumandangkan azan di telinga Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya.” (HR. Abu Dawud)

Catatan Penting:

Muhammadiyah dalam buku Tanya Jawab Agama menjelaskan bahwa hadis riwayat Abu Dawud di atas dinilai lemah (dhaif). Oleh karena itu, praktik ini tidak dapat ditegaskan sebagai sunnah yang mapan atau normatif.

Muncul penjelasan bahwa azan tersebut kemungkinan adalah azan salat, karena kelahiran Hasan bertepatan dengan masuknya waktu salat, bukan ritual khusus kelahiran.

Kesimpulan: Mengutamakan Substansi

Islam menekankan substansi pendidikan iman sejak dini. Meskipun azan di telinga bayi berada di wilayah ikhtilaf (perbedaan pendapat), nilai tauhid tetaplah yang utama.

Perlindungan dari setan, doa keberkahan, pemberian nama yang baik, dan pengasuhan penuh kesadaran tauhid memiliki landasan dalil yang jauh lebih kokoh dibandingkan ritual azan saat lahir.

0Comments