BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Hukum Melagukan Doa dalam Islam: Bolehkah Doa Dinyanyikan?

Hukum Melagukan Doa dalam Islam: Bolehkah Doa Dinyanyikan?

Bolehkah doa dinyanyikan atau dilagukan? Simak penjelasan hukumnya berdasarkan niat, adab berdoa, serta tinjauan putusan Tarjih Muhammadiyah.
Table of contents
×
Bolehkah doa dinyanyikan atau dilagukan
Berdoa merupakan inti dari ibadah, ekspresi paling jujur dari ketergantungan manusia kepada Allah SWT. Cara berdoa tidak semata-mata diukur dari bentuk lahiriahnya, melainkan dari niat, adab, dan kesungguhan hati.

Muncul pertanyaan: apakah doa boleh dinyanyikan? Jawabannya adalah boleh, selama tujuan utamanya adalah untuk berdoa, bukan sekadar menampilkan keindahan suara. Dalam tradisi Islam, melagukan doa membantu makna meresap ke dalam jiwa, mirip dengan indahnya lantunan Al-Qur’an dan adzan.

Fokus utama doa adalah penghambaan. Rasulullah SAW menegaskan pentingnya niat:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung pada niatnya...” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

4 Adab Utama dalam Berdoa

Menurut Putusan Tarjih Muhammadiyah, terdapat empat adab agar doa lebih terarah dan khusyuk saat dilagukan:

  1. Mengangkat kedua tangan
  2. Dimulai dengan pujian kepada Allah dan Shalawat
  3. Berdoa dengan Tadharru’ (Rendah diri)
  4. Menutup dengan Hamdalah

1. Mengangkat Kedua Tangan

Simbol ketundukan ini dijelaskan oleh Nabi SAW:

إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ فَيَرُدَّهُمَا صِفْرًا “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia malu mengembalikan tangan hamba-Nya dalam keadaan kosong.” (HR. Ibnu Majah)

2. Pujian dan Shalawat

Doa yang baik diawali dengan pengakuan keagungan Allah. Sebagaimana sabda Nabi SAW kepada Fudhalah bin Ubaid:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِمَحَامِدِ رَبِّهِ... ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ﷺ “Apabila salah seorang kalian berdoa, mulailah dengan memuji Tuhannya... kemudian bershalawat kepada Nabi SAW...” (HR. Abu Dawud)

3. Berdoa dengan Tadharru’

Sikap rendah hati dan suara lembut adalah kunci agar tidak melampaui batas:

اُدْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-A’raf: 55)

4. Menutup dengan Hamdalah

Menutup doa dengan syukur digambarkan indah dalam Al-Qur'an:

وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “...Dan penutup doa mereka ialah: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Yunus: 10)
Kesimpulan: Melagukan doa dibolehkan selama niat dijaga dan adab diperhatikan. Keindahan suara adalah sarana untuk khusyuk, bukan pertunjukan vokal yang menghilangkan ruh ibadah.

0Comments