Bersyukur bukan berarti hidup selalu mudah. Ia tidak menuntut keadaan harus sempurna, juga tidak menunggu semua luka sembuh. Bersyukur adalah pilihan batin—pilihan untuk tetap lembut meski dunia kadang terasa keras.
“Bersyukur adalah cara hati bertahan agar tidak mengeras oleh kecewa, dan tidak gelap oleh perbandingan.”
Dalam hidup, kekecewaan dan perbandingan sering datang tanpa diundang. Kita melihat kehidupan orang lain tampak lebih lapang, lebih berhasil, lebih bahagia. Jika hati tidak dijaga dengan syukur, ia mudah mengeras, lalu kehilangan kemampuan untuk merasakan nikmat yang masih ada.
Allah ﷻ mengingatkan:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. An-Nahl: 18)
Syukur Membuat Jiwa Lebih Lapang
Ketika hati mulai bersyukur, jiwa pelan-pelan menjadi lebih lapang. Kita tidak lagi sibuk memikirkan apa yang belum dimiliki, tetapi mulai merangkul apa yang masih dititipkan Allah: kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, dan napas yang terus berulang setiap detik.
Syukur mengalihkan fokus dari kekurangan menuju keberkahan. Ia membuat kita sadar bahwa tidak semua yang berkurang berarti hilang, dan tidak semua yang sedikit berarti sempit.
Allah ﷻ berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’"
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur Adalah Perlindungan dari Gelapnya Hati
Bersyukur bukan menutup mata dari kenyataan pahit, tetapi menjaga hati agar tetap bercahaya. Dengan syukur, kita tidak mudah iri, tidak mudah membandingkan, dan tidak mudah merasa kalah oleh keadaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah kebaikan baginya. Hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya."
(HR. Muslim)
Penutup: Syukur sebagai Jalan Pulang
Bersyukur adalah jalan pulang bagi hati yang lelah. Ia mengajarkan kita untuk berdamai dengan keadaan, tanpa kehilangan harapan. Dengan syukur, kita belajar bahwa cukup bukan soal banyak, melainkan tentang hati yang tenang menerima titipan-Nya.
Karena ketika hati bersyukur, hidup mungkin tetap berat—
namun jiwa tidak lagi merasa sendirian.


0Comments