BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
MATERI KHUTBAH JUMAT BAHAYA RIYA’ DAN FLEXING IBADAH: MELURUSKAN NIAT DI ERA PAMER SOSIAL

MATERI KHUTBAH JUMAT BAHAYA RIYA’ DAN FLEXING IBADAH: MELURUSKAN NIAT DI ERA PAMER SOSIAL

Kita kini hidup di zaman yang penuh fitnah digital. Sebuah era di mana segala sesuatu terasa kurang lengkap jika tidak dikabarkan kepada dunia melalui
Table of contents
×

 

BAHAYA RIYA’ DAN FLEXING IBADAH

BAGIAN 1: KHUTBAH PERTAMA إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ وَالْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِكَ Amma ba'du. Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang masih memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, sahabatnya, serta para ulama dan mujahid yang gigih memperjuangkan Islam. Wasiat taqwa tak bosan-bosannya saya sampaikan. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita dengan sebenar-benarnya taqwa, yakni menjalankan perintah-Nya dengan ikhlas dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran, baik saat sendirian maupun di tengah keramaian. Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah, Kita kini hidup di zaman yang penuh fitnah digital. Sebuah era di mana segala sesuatu terasa kurang lengkap jika tidak dikabarkan kepada dunia melalui media sosial. Fenomena ini sering disebut sebagai "flexing" atau pamer. Jika yang dipamerkan adalah harta benda, itu adalah kesombongan duniawi yang tercela. Namun, musibah terbesar dan paling berbahaya adalah ketika yang di-"flexing"-kan adalah ibadah kita kepada Allah. Kita sering melihat, atau mungkin tanpa sadar melakukan: Sedekah divideo lalu diunggah ke status dengan dalih "memotivasi"; berangkat Umrah dengan niat utama berfoto di depan Ka'bah demi likes dan komentar pujian; atau shalat Tahajud namun jari-jemari sibuk membuat cerita (story) di media sosial agar orang tahu kita sedang terjaga di sepertiga malam. Inilah bahaya besar yang mengintai hati kita: Riya’ yang terbungkus teknologi. Ibadah yang sejatinya adalah hubungan intim dan rahasia antara hamba dan Rabb-nya, kini menjadi komoditas konten untuk mencari pujian manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan peringatan yang sangat keras tentang per5il6aku orang yang beribadah namun lalai dalam menjaga niatnya. Allah berfirman dalam Surah Al-Ma'un ayat 4 sampai 6: فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ . الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya'.” (QS. Al-Ma'un: 4-6) Ayat ini memberikan tamparan keras bagi kita. Allah menggunakan kata "Wail" yang bermakna kecelakaan atau kebinasaan, bukan untuk orang yang tidak shalat, melainkan untuk orang yang shalat namun lalai. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa kelalaian di sini bukan hanya menunda waktu, tetapi juga lalai dalam niat. Mereka shalat, mereka beramal, tetapi tujuannya adalah Yuraa’uun (ingin dilihat orang lain). Di era media sosial, Yuraa’uun bertransformasi menjadi keinginan untuk dilihat followers, keinginan untuk viral, dan hasrat dianggap shalih oleh warganet. Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan penyakit hati ini menimpa umatnya, bahkan rasa takut beliau terhadap penyakit ini melebihi ketakutan beliau terhadap fitnah Dajjal. Beliau bersabda dalam sebuah hadits shahih: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ قَالَ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ “Maukah kalian aku kabarkan tentang sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal?” Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu Syirik Khafi (syirik yang samar). Seseorang berdiri mengerjakan shalat, lalu ia membaguskan shalatnya karena ia melihat ada orang lain yang memperhatikannya.” (HR. Ibnu Majah, sanad Hasan) Hadits di atas menjelaskan tentang Syirik Khafi atau syirik tersembunyi. Jika di zaman Nabi orang membaguskan shalat karena ada orang di masjid yang melihat secara langsung, maka di zaman sekarang, seseorang membaguskan konten ibadahnya, memperindah caption dakwahnya, semata-mata karena sadar ada ribuan mata yang melihat di layar gadget. Apa bahayanya jika kita terjebak dalam hal ini? Bahayanya adalah hangusnya pahala. Lelah kita beribadah, keluar uang untuk sedekah, letih bangun malam, namun di mata Allah nilainya NOL, bahkan berbuah dosa. Amal yang tercampur riya' ibarat debu di atas batu licin yang tersapu hujan deras, hilang tak berbekas. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengilustrasikan kerugian ini dengan sangat indah namun menakutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 264: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah)...” (QS. Al-Baqarah: 264) Sungguh rugi orang yang demikian. Batu licin itu ibarat hati yang keras, dan tanah itu ibarat amal kebaikan. Ketika hujan (hari kiamat/kematian) datang, tanah amal itu hilang tersapu bersih. Tidak ada yang tersisa sedikitpun untuk menolong kita di akhirat nanti. Bahkan, ada ancaman yang lebih mengerikan dari sekadar hilangnya pahala. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa orang yang pertama kali dinyalakan api neraka untuknya bukanlah pembunuh atau pezina, melainkan ahli ibadah yang pamer. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim yang cukup panjang, menceritakan tentang tiga golongan manusia yang diadili pertama kali. Salah satunya adalah orang yang bersedekah: وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ... فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ “...Dan orang yang diluaskan rezekinya oleh Allah... Ia berkata: 'Ya Tuhanku, tidak ada satu jalan pun yang Engkau cintai untuk berinfak di dalamnya melainkan aku telah berinfak karenamu.' Allah berfirman: 'Engkau Dusta!' Engkau berbuat demikian supaya dikatakan dermawan. Dan sungguh gelar itu telah disematkan kepadamu. Kemudian diperintahkan (malaikat) untuk menyeret wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)7 Na’udzubillahi min dzalik. Jika orang yang bersedekah harta bendanya saja bisa terseret ke neraka karena salah niat, bagaimana dengan amal ibadah kita yang sedikit ini jika masih dikotori dengan keinginan pamer di media sosial? Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Lantas, bagaimana solusinya agar kita selamat dari penyakit flexing ibadah ini? Solusinya adalah kembali meluruskan niat (Tajdidun Niyat) dan berusaha menyembunyikan amal sunnah sebisa mungkin. Di era di mana semua orang ingin tampil, jadilah orang yang "terasing" dalam kebaikan. Sembunyikanlah shalat sunnahmu, sembunyikanlah tangismu saat berdoa, dan sembunyikanlah sedekahmu, sebagaimana engkau menyembunyikan aib-aib dirimu. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kunci diterimanya amal dalam penutup Surah Al-Kahfi ayat 110: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110) Para mufassir menjelaskan bahwa kalimat "jangan mempersekutukan" di sini artinya adalah ikhlas, murni hanya karena Allah, tidak tercampur dengan keinginan dipuji manusia (riya’). Mari kita termotivasi dengan janji Rasulullah bagi mereka yang mampu menyembunyikan amalnya. Mereka akan mendapatkan naungan istimewa dari Allah di hari kiamat, hari di mana matahari berjarak sangat dekat di atas kepala. وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ “(Salah satu dari tujuh golongan yang dinaungi Allah adalah) Seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah lalu ia menyembunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari & Muslim) Semoga Allah membersihkan hati kita dari penyakit riya’, sum’ah, dan ujub. Semoga setiap postingan kita di media sosial, jika memang harus memposting, bernilai dakwah yang tulus untuk mengajak kebaikan, bukan ajang pamer kesalehan palsu. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ BAGIAN 2: KHUTBAH KEDUA الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Sebagai penutup khutbah ini, mari kita renungkan kembali. Di era digital ini, jempol kita bisa menjadi kunci surga atau justru kunci neraka. Jangan biarkan ibadah yang susah payah kita kerjakan menjadi sia-sia hanya karena ingin pengakuan manusia di media sosial. Ingatlah, jumlah likes, komentar, dan followers tidak akan menolong kita di liang kubur. Yang menolong kita adalah keikhlasan. Luruskan niat sebelum beramal, jaga hati saat beramal, dan lupakan amal tersebut setelah dikerjakan. Biarlah hanya Allah yang tahu, itu sudah lebih dari cukup. Marilah kita tundukkan kepala, rendahkan hati, memohon kepada Allah agar diselamatkan dari fitnah pamer dan riya' yang menghancurkan amal. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ “Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu untuk sesuatu yang tidak kami ketahui.” اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ “Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kemunafikan, bersihkanlah amal kami dari riya’, lisan kami dari dusta, dan mata kami dari khianat. Sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada.” رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

0Comments