BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Materi Khutbah Idul Fitri: Menjaga Buah Ramadhan dalam Kehidupan

Materi Khutbah Idul Fitri: Menjaga Buah Ramadhan dalam Kehidupan

Hari ini kita bergembira dalam Idul Fitri, hari kembali kepada kesucian (fitrah). Namun kesuksesan Idul Fitri bukan hanya pakaian baru yang bapak/ibu
Table of contents
×

Khutbah Idul Fitri: Menjaga Buah Ramadhan dalam Kehidupan


اْلحَمْدُ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنسْتغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ هَذَا الرَّسُوْلِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.. و اتّقوا الله حقّ تقاته ولا تموتن الاّ وأنتم مسلمون

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، لاَاِلَهَ اِلاَّ الله ُ، اَللهُ اَكْبَرُ ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma‘āsyiral muslimīn, Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT

Aku berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian: bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa; melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Lebih-lebih kita semua yang hadir di tempat yang mulia ini, telah berhasil menyelesaikan rangkaian ibadah ramadhan, semoga menambah keimanan dan kedekatan kita kepada Allah SWT, dan pada moment ini mari kita sama-sama berdoa agar Allah menerima semua ibadah ramadhan kita. Allahumma taqobbal minna shiyaamana wa sholaatana, amiin.

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh

Hari ini kita bergembira dalam Idul Fitri, hari kembali kepada kesucian (fitrah). Namun kesuksesan Idul Fitri bukan hanya pakaian baru yang bapak/ibu pakai hari ini atau ucapan “minal ‘āidīn wal fāizīn” yang berseliweran di group-group medsos, melainkan terbentuknya pribadi ramadhani dengan hati yang lebih bersih, harta yang lebih berkah, lisan yang senantisa basah (dzikir), dan shalat yang lebih istiqomah.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ ۝ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri; dan ia mengingat nama Tuhannya, lalu ia salat.” (QS. Al-A‘lā: 14–15)

Ayat ini menjadi ringkasan kemenangan dari Ramadan kita tahun ini: tazakkā (menyucikan diri), wadzakara (mengingat Allah), dan faṣallā (menegakkan salat). Maka marilah kita renungkan: seperti apa pribadi yang mendapatkan kemenangan haqiqi itu?

1) Suci hati dari segala kesyirikan: ikhlas dalam amal

Puasa adalah ibadah yang sangat mendidik keikhlasan. Kita meninggalkan makan, minum, dan syahwat bukan karena manusia melihat, tetapi karena Allah mengetahui. Karena itu, buah pertama Ramadan adalah hati yang bersih dari syirik, dan kuat sifat merasa diawasi oleh Allah SWT.

أن الصائم يدرب نفسه على مراقبة الله تعالى، فيترك ما تهوى نفسه، مع قدرته عليه، لعلمه باطلاع الله عليه

Artinya: “Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk selalu merasa diawasi Allah; ia meninggalkan hal yang diinginkan nafsunya padahal ia mampu melakukannya, karena ia yakin Allah melihatnya.”

Dari sini kita paham: puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi latihan batin agar hati jujur di hadapan Tuhan.

Jika muraqabah sudah hidup, maka kita akan mudah menghilangkan dorongan mencari perhatian manusia, sanjungan, pujian, atau sekadar ingin diperbincangkan.

2) Bersih harta: Ramadan mendidik gemar infak dan sedekah

Ramadhan juga melatih kita melembutkan hati melalui berbagi. Banyak di antara kita yang lebih mudah berinfak saat Ramadan dan itu harus menjadi kebiasaan yang berlanjut. Karena harta yang “bersih” bukan hanya banyaknya, tetapi keberkahannya.

Harta yang berkah itu harta yang bisa diambil manfaat kebaikan akhiratnya bagi pemiliknya.

Harta itu seperti air di telapak tangan. Digenggam sekuat-kuatnya, airnya tetap merembes; tapi kalau dialirkan ke tempat yang tepat, air itu menghidupkan.

Jangan bawa pulang “kikir” sebagai oleh-oleh Syawal. Jadikan infak dan sedekah sebagai tanda bahwa kita benar-benar menang.

3) Mengingat Allah setiap waktu: dzikir dan Al-Qur’an

Dzikir itu seperti napas: kita baru sadar pentingnya napas ketika dada sesak.

Dzikir dan Al-Qur’an itu petunjuk arah untuk hati. Tanpa keduanya, hati bisa tersesat walau tubuh terlihat baik-baik saja.

Rumah yang bercahaya bukan rumah dengan listrik besar, namun rumah yang di dalamnya ada kegiatan membaca Al-Qur’an.

Jangan menunggu momen terakhir untuk menjadi dekat dengan Allah, dekatlah sekarang selagi kita masih diberi waktu dan kesempatan.

4) Menegakkan Shalat

Banyak orang kuat menahan lapar sebulan penuh, tapi kalah oleh satu hal kecil yaitu menunda shalat.

Shalat itu seperti charger. Ponsel secanggih apa pun kalau tidak diisi ulang pasti mati. Hati kita pun begitu.

Shalat bukan sekadar kewajiban lima kali, tetapi pertemuan lima kali dengan Allah.

Sholat itu bukan part time, bukan juga some time, apalagi no time, tetapi harus full time dan on time karena mati itu any time.

Penutup

Itulah empat buah Ramadhan ini: tauhid yang murni, infak yang peduli, dzikir dan tilawah yang menentremkan, serta shalat yang kokoh. Marilah kita rawat dan istiqomahkan empat hal tersebut sampai kita berjumpa dengan Allah SWT.


Doa

سًبْحَانَكَ يَارَبَّنَا لَا نُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى وَلَكَ الْحَمْدُ قَبْلَ الرِّضَا، وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرِّضَا

اللهم ارزقنا قلوبا نقية واعمالا خالصة وارزاقا طيبة مباركة

اَللّٰهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا فِي مَقَامِنَا هٰذَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار

اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

0Comments