BSd9GfC0TUrlBUd5TSO9GSz7GY==
Light Dark
Kultum Ramadhan sebagai Cermin Keikhlasan: Menjaga Niat di Pertengahan Bulan

Kultum Ramadhan sebagai Cermin Keikhlasan: Menjaga Niat di Pertengahan Bulan

Pada hari Selasa, 3 Maret 2026, ba’da sholat Subuh berjamaah di Masjid Taqwa Cepu, jamaah mendapatkan tausiyah penuh hikmah dari Ust. Abdullah Mujahid
Table of contents
×

Pada hari Selasa, 3 Maret 2026, ba’da sholat Subuh berjamaah di Masjid Taqwa Cepu, jamaah mendapatkan tausiyah penuh hikmah dari Ust. Abdullah Mujahid, S.Pd. Dalam kultum tersebut, beliau mengajak jamaah untuk merenungi kondisi diri di pertengahan bulan Ramadhan, khususnya dalam menjaga keikhlasan dan konsistensi ibadah.

Beliau membuka dengan mengingatkan pentingnya tetap bersyukur karena masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan, serta pentingnya menjaga iman hingga akhir hayat sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Memasuki pertengahan Ramadhan, beliau menekankan bahwa ujian bukan lagi sekadar menahan lapar dan haus, tetapi bagaimana menjaga konsistensi hati dan niat. Banyak orang yang semangat di awal, namun mulai menurun di tengah perjalanan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadits ini menjadi pengingat agar kita terus memperbarui niat: apakah ibadah yang kita lakukan benar-benar karena Allah, atau mulai tercampur dengan keinginan untuk dilihat dan dipuji manusia.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan tujuan utama puasa sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan Ramadhan adalah membentuk ketakwaan. Dan takwa adalah amalan hati—tidak diukur dari penampilan lahir, tetapi dari kejujuran dan keikhlasan di hadapan Allah.

Dalam kultum tersebut juga disampaikan bahwa Ramadhan sejatinya adalah “cermin” bagi diri seorang mukmin. Dengan bercermin, seseorang dapat melihat kekurangan dirinya: apakah shalat sudah khusyuk, apakah lisan terjaga, apakah hati masih dipenuhi kesombongan dan dengki.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Hadits ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari keburukan akhlak.

Sebagai penutup, beliau mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum muhasabah, memperbaiki niat, dan meningkatkan kualitas ibadah. Jangan sampai Ramadhan hanya menjadi rutinitas tahunan atau bahkan ajang untuk mencari pujian.

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai sarana memperbaiki diri—biarlah amal kita mungkin terlihat kecil di mata manusia, namun besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita termasuk hamba yang mampu menjaga keikhlasan dan meraih derajat takwa.

0Comments