Pada hari Rabu, 4 Maret 2026, ba’da sholat Subuh di Masjid Taqwa Cepu, Ust. Abdullah Wahab, S.Pd.I menyampaikan tausiyah yang mengajak jamaah untuk memahami makna puasa Ramadhan secara lebih mendalam, tidak hanya sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai sarana menumbuhkan kepedulian sosial.
Beliau menjelaskan bahwa di balik rasa lapar yang dirasakan saat berpuasa, terdapat pelajaran besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita lebih peka terhadap kondisi sesama, khususnya mereka yang hidup dalam kekurangan. Rasa lapar yang kita rasakan sesaat seharusnya menjadi pengingat bagi kita akan saudara-saudara kita yang mungkin merasakan lapar setiap hari.
Ramadhan hadir sebagai momentum untuk meruntuhkan sikap egois dan menumbuhkan empati. Iman tidak cukup hanya diwujudkan dalam ibadah ritual seperti sholat dan puasa, tetapi juga harus tercermin dalam kepedulian nyata terhadap sesama.
Allah Ta’ala berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali ‘Imran: 92)
Maksudnya:
Ayat ini menegaskan bahwa kebaikan yang sempurna tidak akan diraih kecuali dengan pengorbanan, yaitu dengan memberikan sesuatu yang kita cintai kepada orang lain. Inilah wujud nyata kepedulian sosial dalam Islam.
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya membantu sesama:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
(HR. Muslim)
Maksudnya:
Pertolongan Allah akan datang kepada siapa saja yang gemar membantu orang lain. Semakin besar kepedulian kita kepada sesama, semakin besar pula pertolongan Allah kepada kita.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengajak jamaah untuk mengamalkan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di bulan Ramadhan. Di antaranya dengan berbagi makanan berbuka kepada yang membutuhkan, memperbanyak sedekah, serta menjaga perasaan orang lain dengan tidak menunjukkan kemewahan secara berlebihan.
Sebagai penutup, beliau mengingatkan bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki hubungan, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Dengan menggabungkan ibadah ritual dan kepedulian sosial, diharapkan kita mampu meraih derajat takwa yang sesungguhnya.
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang peduli, ringan tangan dalam membantu sesama, dan mendapatkan rahmat serta pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin.

0Comments